Dunia Islam

Arisan Umroh, Boleh atau Tidak?

Bagi sebagian orang, ibadah haji atau umroh tidak hanya menjadi sekedar masalah kewajiban. Haji ataupun umroh telah menjadi cita-cita besar yang umum pada setiap insan Islami. Akhirnya tidak sedikit orang yang ingin melaksanakan ibadah umroh meski dengan segala macam risiko dan dengan menempuh cara apa pun.

Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan menggunakan sistem arisan, yakni mengumpulkan sejumlah uang tertentu secara rutin, lalu pada setiap periode dikeluarkan dengan cara diundi kepada salah satu anggota kelompok untuk berhaji. Hal ini kemudian dilakukan secara bergiliran di setiap periodenya. Lalu bagaimana dengan kedudukan hukum arisan umroh ini, kira-kira boleh atau tidak, ya?

Terdapat perbedaan pendapat terkait kedudukan hukum arisan umroh atau haji, apakah diperbolehkan atau tidak. Berikut adalah uraian singkatnya:

Hukum yang memperbolehkan

Arisan Umroh - Pinterest
Arisan Umroh – Pinterest

Hukum arisan umroh atau haji secara umum termasuk muamalat yang belum pernah disinggung sebelumnya di dalam Alquran dan Hadis secara langsung, maka hukumnya dikembalikan kepada hukum asal muamalah, yakni diperbolehkan.

Ibnu Taimiyah di dalam Majmu’ al Fatawa menyebutkan: “Tidak boleh Mengharamkan muamalah yang dibutuhkan manusia sekarang kecuali, jika ada dalil dari Alquran dan hadis tentang pengharamannya.”. Para ulama tersebut berdalil dengan Alquran sebagai berikut:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.“ (Qs Al-Maidah: 2)

Ayat tersebut menjadi dasar untuk saling membantu di dalam kebaikan, sama seperti maksud dan tujuan dari arisan itu sendiri, yakni membantu yang membutuhkan dengan membayar iuran secara rutin dan bergiliran untuk mendapatkannya.

Hukum yang tidak memperbolehkan

Arisan Umroh - 5pillarsuk.com
Arisan Umroh – 5pillarsuk.com

Untuk mempertegas makna istitha’ah, para pakar hukum Islam telah menerangkan dalam kitab-kitab fikih, bahwa jika seseorang yang belum memiliki kemampuan (istitha’ah) untuk melakukan ibadah haji, ditawari hadiah Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) oleh pihak lain, maka ia tidak wajib menerima hadiah tersebut.

Arisan haji sebagaimana yang telah disebutkan di atas adalah sama saja dan tidak berbeda dengan cara berhutang kepada orang lain untuk berangkat haji. Hal ini ditakutkan akan membebani diri sendiri atau keluarga yang ditinggalkan jika ia wafat. Padahal Rasulullah SAW telah melarang seseorang berhutang untuk melaksanakan ibadah haji, sebagaimana yang disebutkan dalam Hadis:

“Sahabat Thariq berkata: Saya telah mendengar sahabat yang bernama Abdullah ibn Abi Aufa bertanya kepada Rasulullah SAW tentang seseorang yang tidak sanggup naik haji apakah dia boleh meminjam uang untuk menunaikan ibadah haji? Nabi menjawab: Tidak boleh.” (HR Baihaqi).

Menurut kitab Al-Muhadzdzab, orang yang berharta dan mampu berhaji, maka ia wajib berhaji. Namun, jika ia berharta tetapi memiliki hutang, maka wajib baginya mendahulukan membayar hutang dan tidak wajib berhaji. Selain itu, arisan umroh atau haji juga dapat dikatakan mengandung unsur gharar (tidak jelas) karena tidak ada jaminan bahwa orang-orang yang telah memenangkan undian mampu melunasi sisa arisan yang menjadi tanggungannya, sebagaimana jika ia tertimpa musibah atau bangkrut sehingga tidak dapat melunasi dan menyebabkan kerugian pada orang lain.

Dari uraian di atas, jelas bahwa kewajiban haji itu hanya berlaku bagi mereka yang sanggup membayar BPIH. Maka seorang muslim yang memaksakan dirinya untuk melaksanakan ibadah haji atau umroh, padahal sebenarnya ia tidak mampu, seperti mengikuti arisan umroh dan ia mendapatkan uang arisan pada putaran-putaran awal, maka hukumnya minimal menjadi makruh, bahkan bisa juga menjadi haram.

Kenapa menjadi haram? Hal ini karena ongkos haji atau umroh yang ia miliki itu berasal dari uang yang dipinjamkan oleh anggota arisan lainnya. Jadi, ia berangkat menunaikan ibadah haji dengan cara berhutang, sementara ia sendiri belum terkena kitab yang mewajibkannya.

Demikianlah uraian singkat mengenai hukum arisan umroh. Meskipun terdapat kontroversi mengenai diperbolehkannya atau tidak arisan ini, terdapat hal posistif yang dapat kita lihat di sini, yakni banyak orang yang memang betul-betul termotivasi dan bertekad untuk bisa berangkat haji ataupun umroh, semangat yang seharusnya ada dalam setiap diri umat Islam. Bagikan juga yuk, makin banyak baca, makin banyak ilmu.

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
%d bloggers like this: