FikihHajiKeluarga

Bagaimana Fatwa Ulama tentang Badal Haji?

Istilah badal haji mungkin sudah cukup familier di telinga kita. Secara bahasa, “badal” artinya menggantikan. Jika dikaitkan dengan istilah badal haji, maka maknanya adalah seseorang yang menggantikan haji dari orang lain, baik kerabat maupun orang tua, yang memiliki halangan untuk menunaikannya ke tanah suci, baik karena alasan usia, kesehatan, atau karena telah wafat. Lantas, bagaimana para ulama memandang badal haji?

Hukum Badal Haji

Fatwa Haji - Telkomsel
Fatwa Haji – Telkomsel

Sebagian besar ulama memberikan fatwa haji yang menyatakan bahwa badal merupakan hal yang diperbolehkan. Dasar hukum diperbolehkannya badal berasal dari hadis berikut:
“Seorang laki-laki dari Bani Khas’am menghadap kepada Rasulullah saw.
ia berkata: ‘Sesungguhnya ayahku masuk Islam pada waktu ia telah tua, dia tidak dapat naik kendaraan untuk haji yang diwajibkan, bolehkah aku menghajikannya?’
Rasulullah pun bersabda: ‘Apakah kamu anak tertua?’ orang itu menjawab, ‘Ya’.
Lalu Nabi pun bersabda: ‘Bagaimana pendapatmu jika ayahmu memiliki hutang, lalu engkau membayar hutang untuknya, apakah itu cukup sebagai gantinya?’
Orang itu menjawab kembali menjawab ‘ya’. Maka nabi bersabda: ‘Hajikanlah dia.’” (Hadis Riwayat Ahmad).

Pendapat Ulama Tentang Badal Haji

Fatwa Haji - Liputan6.com
Fatwa Haji – Liputan6.com

Imam Hanafi, Syafii, dan Hambali membolehkan badal haji selama orang yang diwakilkan telah meninggal, atau masih hidup tapi memiliki uzur berat yang dapat berlangsung seumur hidup. Ketiga imam tersebut memiliki perbedaan pendapat mengenai biaya yang digunakan untuk berangkat haji. Imam Syafii dan Hambali menyatakan biaya haji dapat diambil dari harta peninggalan orang yang hendak berhaji, sedangkan Imam Hanafi berpendapat biaya haji harus berasal dari ahli waris yang hendak membadalkan almarhum.

Meski mayoritas ulama membolehkan badal haji, ada pula ulama yang menentang praktik ini. Para ulama yang menentang badal haji berpendapat bahwa amalan seseorang tidak dapat digantikan oleh orang lain. Adapun jika orang yang bersangkutan tutup usia sebelum ia menunaikan amalannya, maka ia secara otomatis terbebas dari kewajibannya tersebut.

Salah satu dasar hukum yang dipakai ulama yang tidak menyetujui adanya badal haji terdapat dalam Surat An-Najm ayat 38-39 yang artinya: “(yaitu) bahwasanya seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh sesuatu selain dari apa yang telah diusahakannya.”

Syarat Badal Haji

Fatwa Haji - Radionz.co.nz
Fatwa Haji – Radionz.co.nz

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seseorang yang hendak menggantikan haji anggota keluarga yang sudah wafat atau memiliki uzur, di antaranya:

1. Pihak yang berniat menggantikan haji harus sudah berhaji. Jika seseorang yang belum berhaji berniat membadalkan haji kerabatnya yang wafat, maka pahala ibadah hajinya jatuh pada dirinya sendiri.

2. Seseorang tidak boleh membadalkan haji karena alasan ekonomi. Badal haji hanya diperbolehkan untuk orang yang secara fisik tidak mampu memenuhi seluruh rukun dan syarat haji.

3. Wanita boleh membadalkan haji laki-laki, begitu pula sebaliknya. Fatwa tersebut berasal dari keputusan ulama Lajnah yang menyatakan: “Badal haji diperbolehkan jika orang yang membadalkan haji telah berhaji untuk dirinya sendiri. Begitu pula jika menyuruh seorang wanita untuk menggantikan haji ibunya, atau anggota keluarga pria sesuai dalil sahih dari Rasululullah saw.” (Fatwa Al-Lajnah 11:52)

4. Pilih orang yang amanah untuk melakukan badal haji. Para ulama Lajnah menyatakan: “Bagi siapa pun yang ingin mencari seseorang untuk menggantikan hajinya, hendaklah ia memilih seseorang yang baik agamanya serta amanah agar ia merasa tenang ketika ibadah hajinya dilaksanakan orang lain.” (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah, 11:53)

5. Tidak boleh menggantikan haji dua orang atau lebih. Badal haji hanya berlaku untuk satu orang, sesuai dengan fatwa ulama Lajnah yang menyatakan: “Tidak boleh seseorang membadalkan haji dua orang atau lebih, badal hanya untuk satu orang, begitu pula umrah. Akan tetapi, jika seseorang berniat membadalkan haji dan berumrah untuk orang lain dalam satu tahun, maka hal tersebut dibolehkan asalkan orang tersebut sudah berhaji dan berumrah untuk dirinya sendiri.”

Itulah beberapa fatwa haji badal dari ulama dan imam tiga mazhab. Semoga bermanfaat.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close