Islam

Bagaimana Hukum Meminum Obat untuk Mencegah Haid Ketika Haji?

Menunaikan ibadah haji merupakan dambaan setiap muslim. Namun, tidak banyak orang yang memperoleh kenikmatan untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima tersebut karena berbagai alasan. Bagi kaum hawa, salah satu hal yang dapat mengurangi kenikmatan dalam beribadah haji adalah kehadiran tamu bulanan alias haid. Haid yang biasanya berlangsung selama kurang lebih tujuh hari tentunya membuat jemaah wanita khawatir tidak dapat melaksanakan rukun haji dengan lengkap. Lantas, bagaimana hukumnya bagi jemaah wanita yang haid ketika haji?

Hukum Wanita Haid Saat Berhaji

Haid Ketika Haji - English.alarabiya.net
Haid Ketika Haji – English.alarabiya.net

Jemaah wanita yang mendapat haid ketika haji tetap dapat menjalankan seluruh amalan haji, kecuali tawaf dan tawaf ifadah, yang merupakan salah satu syarat sah ibadah haji. Amalan ibadah lain yang juga tidak boleh dilakukan oleh wanita haid adalah salat, puasa, dan menyentuh mushaf Alquran. Larangan melaksanakan tawaf bagi wanita haid tertuang dalam sabda Rasulullah: “Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang berhaji selain dari melakukan tawaf di Kakbah hingga Engkau suci,” (Hadis Riwayat Bukhari No. 305 dan Muslim No. 1211).

Sementara, berdasarkan pandangan Mazhab Syafii yang tertuang dalam Kitab Al-Majmu Juz 8 menyatakan bahwa wanita haid yang belum melakukan tawaf ifadah diharuskan bertahan di Mekkah hingga suci. Adapun jika wanita tersebut menghadapi ancaman keamanan yang menuntutnya agar pulang bersama rombongan sebelum tawaf ifadah, ia tetap harus berihram hingga kembali ke Mekkah untuk bertawaf, meski baru bisa dilaksanakan beberapa tahun kemudian.

Hukum Meminum Obat Pencegah Haid

Haid Ketika Haji - Pennlive.com
Haid Ketika Haji – Pennlive.com

Haid ketika haji merupakan tantangan terbesar yang harus dihadapi jemaah wanita. Bahkan, banyak calon jemaah haji wanita yang tidak segan mengonsumsi obat untuk menghindari datangnya haid ketika haji. Keinginan untuk dapat melaksanakan rukun haji dengan sempurna tentunya dimiliki setiap jemaah, tapi bagaimana hukumnya bagi jemaah haji wanita yang meminum obat pencegah haid?

Para ulama memiliki berbagai pendapat mengenai hukum meminum obat pencegah haid bagi jemaah haji wanita. Fatwa dari Majelis Ulama Saudi sendiri pada dasarnya memperbolehkan penggunaan obat pencegah haid bagi jemaah wanita, asalkan obat tersebut tidak memiliki efek samping berbahaya dan telah melalui proses konsultasi dengan dokter. Hal senada pun diungkapkan tokoh Nahdatul Ulama dalam sidang muktamar NU di Pondok Pesantren Al-Munawir, Yogyakarta, tahun 1989 silam.

Pendapat lain mengenai hukum meminum obat pencegah haid pun diutarakan Syeikh Abdul Malik, penulis kitab Shahih Fiqh Sunnah. Meski tidak melarang penggunaan obat, Syeikh Abdul Malik pun tidak menganjurkan praktik tersebut. Dalam keterangannya, Syeikh Abdul Malik menyatakan: “Haid adalah ketetapan Allah bagi kaum hawa. Para wanita di masa Nabi sallallahu alaihi wassalam tidak pernah menyusahkan diri mereka agar dapat berpuasa sebulan penuh. Oleh karena itu, menggunakan obat pencegah haid sebaiknya tidak dilakukan. Akan tetapi, jika muslimah tetap menggunakan obat semacam itu dan tidak memiliki dampak negatif, maka tidak mengapa.”

Meski banyak fatwa ulama membolehkan penggunaan obat pencegah haid saat haji, jemaah wanita pun perlu mempertimbangkan efek samping yang kemungkinan dimiliki oleh obat tersebut. Efek samping yang disebabkan obat pun berbeda-beda, tergantung kondisi fisik dan faktor fisiologis penggunanya.

Obat pencegah haid dapat menimbulkan berbagai keluhan kesehatan seperti mual, sakit kepala, atau nyeri pada payudara, yang justru dapat merusak kekhusyukan dalam beribadah. Efek jangka panjang yang kemungkinan disebabkan oleh obat pencegah haid salah satunya adalah siklus haid yang tidak teratur, terlebih jika obat tersebut dikonsumsi dalam keadaan tubuh yang tidak prima.

Pilihan tentunya ada pada tangan calon jemaah haji wanita. Pertimbangkan segala efek samping yang kemungkinan timbul dari obat dengan berkonsultasi pada dokter. Bicarakan pula niat tersebut dengan ahli fikih untuk memastikan bahwa Anda tidak menyalahi hukum agama.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
%d bloggers like this: