Mana yang Harus Didahulukan, Berhaji atau Bayar Hutang?

Membayar hutang dan menunaikan haji merupakan kewajiban yang harus ditunaikan. Membayar hutang merupakan kewajiban seseorang terhadap sesamanya, sedangkan berhaji adalah kewajiban seorang hamba pada Tuhannya. Baik membayar hutang maupun berhaji, keduanya memerlukan kemampuan serta kemantapan seseorang agar dapat melakukannya dengan hati yang tulus dan ikhlas. Lantas, mana yang patut didahulukan? Menunaikan haji atau melunasi hutang?

Kewajiban Membayar Hutang

Haji Hutang - i0.wp.com

Haji Hutang – i0.wp.com

Orang yang tidak membayar hutang padahal ia mampu akan mendapatkan dosa besar dari Allah swt. Rasulullah bahkan rela menggadaikan baju besinya untuk membayar hutang pada seorang Yahudi yang menjual makanan padanya. Kisah tersebut diriwayatkan dalam sebuah hadis: “Nabi sallallahu alaihi wassalam membeli makanan dari seorang Yahudi dengan tidak tunai. Kemudian beliau menggadaikan baju besinya,” (Hadis Riwayat Al-Bukhari).

Meski dibolehkan, seorang mukmin dianjurkan untuk menjauhi hutang. Kebiasaan berhutang demi memenuhi sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan justru akan menarik seseorang ke dalam jurang penuh dosa. Salah satu akibat dari kebiasaan berhutang adalah timbulnya sifat-sifat orang munafik, sebagaimana yang tercantum dalam hadis: “Sesungguhnya seseorang yang biasa berhutang, jika dia bicara maka dia akan berdusta, jika dia berjanji maka dia akan mengingkarinya,” (Hadis Riwayat Al-Bukhari No. 832 dan Muslim No. 1325/589).

Rasulullah pun menganjurkan untuk memberikan jaminan ketika berhutang. Adanya jaminan dapat meyakinkan orang yang diutangi bahwa kita masih memiliki iktikad baik untuk membayar hutang tersebut. Yang paling penting, pastikan orang yang kita utangi dapat dipercaya dan tidak menerapkan sistem riba yang justru akan menyeret kita ke dalam dosa besar.

Mendahulukan Membayar Hutang atau Menunaikan Haji?

Haji Hutang - kemakkah.com

Haji Hutang – kemakkah.com

Para ulama banyak menyampaikan pendapatnya mengenai hal ini. Banyak dari para ulama yang setuju bahwa seseorang yang masih berhutang boleh menunaikan ibadah haji sebelum membayar hutangnya, jika orang yang hartanya ia pinjam memberikan restu terhadapnya. Pendapat tersebut dilandasi oleh firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 97 yang artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang-orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.”

Pendapat lain menyatakan bahwa seseorang dianjurkan untuk menyelesaikan segala urusan dunianya, termasuk hutang-piutang, sebelum menunaikan ibadah haji. Perkara hutang melibatkan harta milik orang lain, dan hal tersebut tentunya akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Ulama yang menyarankan untuk membayar hutang terlebih dahulu beranggapan bahwa uang yang digunakan seseorang untuk melunasi hutangnya jauh lebih baik dari 10 riyal yang ia gunakan untuk pergi haji. Lain halnya jika orang yang berhutang tersebut diberi hadiah dari kerabatnya untuk menunaikan ibadah haji secara cuma-cuma.

Seseorang yang pergi haji dalam keadaan masih menanggung hutang tetap diperbolehkan, selama ia masih memiliki kemampuan dan niat tulus untuk membayar hutangnya tersebut. Hal tersebut tentunya berbeda dengan seseorang yang nekat meminjam uang di bank agar dapat menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.

Meski haji hutang diperbolehkan, tapi perlu diingat pula dengan siapa kita berhutang. Bank konvensional menerapkan sistem yang sangat erat kaitannya dengan riba, dan kita tentunya tahu bagaimana hukum riba dalam Islam. Jika seseorang berhaji dengan menggunakan uang dari jalan yang tidak diridai Allah, maka ibadah yang kita tunaikan belum tentu diterima oleh-Nya.

Pilihan untuk melunasi hutang atau menunaikan ibadah haji terlebih dahulu sifatnya sama-sama baik. Yang paling penting, luruskan niat kita semata-mata karena Allah agar Allah pun melimpahkan keridaan-Nya pada kita agar dapat memenuhi hajat yang belum tertunaikan.

Add Comment

%d bloggers like this: