Bagaimana Proses Pemakaman Jemaah Haji yang Meninggal di Tanah Suci?

Peristiwa jatuhnya crane proyek renovasi Masjidil Haram pada 2015 lalu tentu masih segar dalam ingatan kita. Ratusan jemaah haji wafat dalam peristiwa memilukan tersebut. Jatuhnya crane bukan satu-satunya kejadian memilukan yang menodai kekhidmatan pelaksanaan haji pada tahun itu. Tragedi Terowongan Mina turut menambah duka bagi jemaah haji dan keluarga yang ditinggalkan.

Setiap tahun dapat dipastikan ada jemaah haji yang wafat di Tanah Suci baik itu karena sakit atau musibah. Hal tersebut tentunya menggelitik rasa ingin tahu kita; apa yang terjadi jika jemaah haji meninggal di Tanah Suci? Bagaimana proses pemulangan jemaah haji yang wafat?

Pemakaman Jemaah Haji di Tanah Suci

haji meninggal - cdns.klimg.com

haji meninggal – cdns.klimg.com

Menurut aturan yang berlaku, jemaah haji yang wafat tidak diizinkan untuk dibawa pulang ke negaranya dan harus dimakamkan di Tanah Suci. Pemerintah Arab Saudi ternyata memiliki pemakaman khusus bagi jemaah haji yang wafat di Tanah Suci, yang diberi nama Pemakaman Soraya. Di area pemakaman tersebut, kuburan hanya berbentuk gundukan tanah yang ditandai dengan sebongkah batu tanpa nama.

Pemakaman khusus jemaah haji tersebut terletak di pinggiran Kota Mekkah atau sekitar 20 km dari pusat kota. Luas pemakaman ini mencapai empat hektare persegi, dan hanya diperuntukkan bagi jemaah haji atau umrah yang berasal dari luar negeri. Pemakaman tersebut dikelilingi bebatuan cadas yang berdiri di sekitar jalan lintas dari Jaro’nah menuju Mekkah.

Keterbatasan lahan pemakaman membuat pengelola harus menguburkan beberapa jenazah sekaligus dalam satu liang lahat. Jika ada jemaah yang meninggal, petugas terpaksa harus membongkar kuburan yang telah berusia lebih dari tiga tahun. Jika jenazah dalam liang lahat tersebut masih utuh, petugas akan menggali kuburan lebih dalam untuk memberi ruang bagi jenazah yang akan disemayamkan.

Keluarga pun tidak akan diberitahu letak persis kuburan keluarga mereka yang wafat di Tanah Suci. Pihak keluarga hanya akan mendapatkan informasi melalui  Certificate of Death (COD) dari tenaga medis yang memeriksa jenazah dan pemberitahuan langsung bahwa anggota keluarga mereka yang tengah berhaji telah wafat. Pemerintah akan bertanggung jawab untuk menanggung asuransi jemaah haji meninggal sekaligus melaksanakan badal haji.

Keistimewaan Wafat di Tanah Suci

haji meninggal - 3.bp.blogspot.com

haji meninggal – 3.bp.blogspot.com

Dalam berbagai riwayat hadis disebutkan adanya keistimewaan bagi siapa pun yang meninggal di Madinah dalam rangka menjalankan ibadah haji. Salah satu di antaranya diriwayatkan Ibnu Umar; dalam riwayat tersebut Rasulullah sallallahu alahi wassalam bersabda:

“Siapa yang meninggal di Madinah, silakan meninggal di Madinah. Karena aku akan memberikan syafaat bagi orang-orang yang meninggal di Madinah.” (Hadis Riwayat Turmudzi 3917, disahihkan An-Nasai dalam Sunan Al-Kubro (1/602) dan Al-Albani)

Ibnu Umar pun meriwayatkan ada orang yang ikut wukuf bersama Nabi lalu ia jatuh dari unta hingga lehernya patah. Melihat peristiwa tersebut, Rasulullah bersabda:

“Mandikan ia dengan air dan bidara. Jangan diberi wewangian, dan jangan pula ditutupi kepalanya, sebab Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam kondisi membaca kalimat talbiyah.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim 2948)

Berkaitan dengan keistimewaan wafat di Tanah Suci, banyak orang beranggapan bahwa siapa pun yang wafat di Mekkah atau Madinah akan mendapat keringanan siksa kubur. Namun, tidak ada dalil yang menyatakan hal tersebut, kecuali syafaat dari Rasulullah seperti yang disebutkan hadis di atas. Tidak ada yang dapat memastikan bagaimana nasib almarhum kelak di alam baka, sekalipun mereka wafat di Tanah Haram. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala perbuatan yang dilakukan manusia semasa hidupnya. Dia pulalah yang berhak menentukan apakah seseorang berhak mendapat keringanan siksaan di alam barzah.

Add Comment

%d bloggers like this: