Dunia Islam

Keyakinan yang Tak Sepenuh Hati dalam Mengerjakan Ibadah Haji

…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka Sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali Imron:97)

Dari ayat tersebut, kita bisa memetik beberapa hal serta melakukan renungan hati terkait rukun Islam yang kelima, yaitu haji. Sebagai ibadah wajib, keutamaan menjalankan ini sangat banyak. Bahkan, seperti yang telah dituliskan pada ayat di atas, mereka yang menolak berhaji padahal telah mampu adalah orang yang merugi.
Lantas, bagaimana dengan orang yang melaksanakan ibadah haji tetapi tidak sepenuh hati?

Beda Zaman, Beda Makna

Renungan Hati - Yallabook.com
Renungan Hati – Yallabook.com

Seiring dengan berjalannya waktu, pelaksanaan Ibadah Haji telah mengalami pergeseran makna. Banyak orang yang menganggap perjalanan haji tidak hanya kegiatan beribadah semata, namun juga dijadikan sebagai tren dan gaya hidup. Yang lebih memprihatinkan, sebagian orang menjadikan perjalanan ke Tanah Suci sebagai ajang untuk unjuk status sosial. Di sisi lain, tidak sedikit pula dari mereka yang telah mampu secara finansial melalaikan pentingnya ibadah haji.

Niat dan keyakinan yang tidak sepenuh hati ini menimbulkan kerancuan dalam memaknai maksud dari rukun Islam kelima. Sejatinya Allah SWT ingin mengajarkan banyak hal melalui ibadah haji. Nilai-nilai yang diajarkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat membawa perubahan dalam diri ke arah yang lebih baik. Hal ini dapat tercapai jika jemaah haji menyerap dan mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan selama melaksanakan ibadah di tanah suci.

Haji Lebih dari Sekadar Ibadah

Renungan Hati - Twitter.com
Renungan Hati – Twitter.com

Ibadah haji bukanlah sekadar prosesi lahiriah dan formalitas belaka, melainkan sebuah momen revolusi lahir dan batin. Berhaji merupakan cermin perjuangan Nabi Ibrahim serta keluarganya, yang selama hidupnya berdakwah untuk mengajak manusia bertauhid walaupun terus mengalami ujian dari Allah. Kemudian, di balik itu semua, karunia terbesar orang yang berhaji adalah adanya janji Allah untuk menghapuskan seluruh dosa tanpa terkecuali.

Termasuk di antaranya adalah dosa-dosa besar yang hanya dapat dihilangkan melalui wukuf di Arafah. Allah berfirman dalam hadis Qudsi: “Allah berkata kepada para Malaikat: ’Lihatlah hamba-hamba-Ku! Mereka datang kepada-Ku dengan rambut kusut dan berdebu karena berharap rahmat-Ku. Aku bersaksi kepadamu bahwa Aku telah mengampuni mereka.’” (HR Ahmad).

Idaman bagi setiap yang melaksanakan haji adalah mendapat predikat haji mabrur. Haji yang mabrur artinya yang ibadah hajinya diterima oleh Allah karena cara hajinya benar sesuai ketentuan Allah dan Rasulullah, tidak dicemari  bid’ah dan dosa, serta mampu meningkatkan kualitas diri setelah selesai melaksanakan haji melalui amalan amar ma’ruf nahi munkar.

Anjuran untuk Segera Berhaji

Renungan Hati - Youtube
Renungan Hati – Youtube

Kebanyakan umat Islam Indonesia merasa terpanggil untuk menjalankan ibadah haji ketika sudah berusia lanjut. Padahal, berhaji tidak harus menunggu tua. Justru dianjurkan untuk melaksanakan ibadah haji ketika dirasa cukup memiliki bekal dan selagi masih muda.  Insya Allah akan menjadi berkah bagi kehidupan.

Kepada orang yang menunda-nunda pelaksanaan ibadah hajinya, Rasulullah mengingatkan: “Bersegeralah melaksanakan haji, karena sesungguhnya seorang di antara kamu tidak mengetahui apa yang akan merintanginya.”( HR. Ahmad).

Hendaknya hal ini menjadi motivasi untuk menyegerakan diri beribadah di Tanah Suci. Apalagi, telah banyak ayat-ayat Allah dan hadis yang menyebutkan begitu besar pahala dan manfaat yang dapat diperoleh melalui ibadah haji. Sebagai bentuk renungan hati, marilah kita benar-benar memahami ayat-ayat Allah untuk memaknai haji pada arti yang sesungguhnya.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close