Nilai Filosofis yang Terkandung dalam Peristiwa Perpindahan Kiblat Masjid Qiblatain

Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dikenal sebagai dua masjid yang memiliki sejarah dan nilai penting bagi umat Islam. Namun, ada satu masjid yang juga tak kalah pentingnya dari dua masjid suci yang telah disebutkan tadi. Masjid Qiblatain, yang terletak di sebuah bukit kecil di utara Madinah, merupakan saksi bisu berubahnya arah kiblat umat Islam.

Semula, umat Islam pada masa Rasulullah saw. beribadah dengan menghadap ke arah Baitul Maqdis sebelum Allah swt. memberikan wahyu-Nya kepada Rasulullah untuk memindahkan kiblat ke arah Masjidil Haram. Peristiwa penting dalam sejarah umat Islam tersebut tentunya memiliki nilai-nilai filosofis yang masih sangat relevan bagi muslim saat ini. Apa saja pelajaran yang dapat kita petik dari peristiwa perpindahan kiblat Masjid Qiblatain? Simak ulasannya berikut.

Islam Merupakan Satu-satunya Agama yang Diridai Allah

Masjid Qiblatain - alquranmulia.files.wordpress.com

Masjid Qiblatain – alquranmulia.files.wordpress.com

Pada masa Rasulullah Muhammad saw. seluruh penganut agama Ibrahim baik Yahudi, Nasrani, maupun Islam menjadikan Baitul Maqdis sebagai tempat yang disucikan. Hingga tahun ke-2 Hijriyah, umat Islam masih menghadap ke arah Baitul Maqdis saat menjalankan salat, serupa yang dilakukan oleh umat Yahudi.

Allah kemudian menurunkan firman-Nya kepada Rasulullah saat beliau sedang melaksanakan salat zuhur di Masjid Bani Salamah, yang kini dikenal sebagai Masjid Qiblatain. Saat firman Allah diturunkan, Rasulullah baru menyelesaikan dua rakaat pertama dari salatnya. Firman Allah tersebut berbunyi: “Sungguh Kami sering melihat mukamu menengadah ke ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang diberikan Taurat dan Injil, memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Allah dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Surat Al-Baqarah: 144).

Segera setelah mendapat perintah tersebut, Rasulullah langsung mengubah arah salatnya ke arah Masjidil Haram yang juga langsung diikuti seluruh jemaah. Melalui perintah tersebut, Allah menegaskan bahwa Islam merupakan ajaran penyempurna dari ajaran-ajaran sebelumnya. Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 143 pun menyebutkan bahwa perpindahan arah kiblat memang dimaksudkan untuk memisahkan kaum-kaum munafik dari umat Islam yang tulus dan ikhlas.

Masjid Qiblatain Merupakan Simbol Harmoni Sejarah dan Masa Kini

Masjid Qiblatain - c1.staticflickr.com

Masjid Qiblatain – c1.staticflickr.com

Meski telah mengalami perubahan arah kiblat dan perombakan bangunan dari masa-masa, ada satu hal yang tidak pernah berubah dari Masjid Qiblatain. Hingga saat ini, Masjid Qiblatain masih mempertahankan mihrabnya yang menghadap ke arah Baitul Maqdis, Palestina. Mihrab tua memiliki nuansa tradisional yang kental, terbukti dengan adanya pasir di area tersebut. Hal tersebut tentunya berfungsi sebagai pengingat sejarah dan penegas bahwa Islam merupakan agama yang berbeda dari ajaran-ajaran sebelumnya.

Di samping memiliki dua mihrab, Masjid Qiblatain pun memiliki dua menara dan dua kubah. Kedua menara tersebut dibuat dengan ukuran sama. Ukuran kubah sengaja dibuat berbeda sebagai penanda bahwa kubah utama merupakan arah kiblat yang benar.

Berkat nilai sejarah yang dikandungnya, Masjid Qiblatain hingga saat ini dijadikan sebagai salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi para jemaah haji dan umrah, sebab di tempat itulah Rasulullah saw. menerima wahyu Allah yang kemudian menjadi titik balik paling penting dalam sejarah Islam.

Itulah beberapa nilai penting yang terkandung dalam peristiwa perpindahan kiblat Masjid Qiblatain. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari peristiwa tersebut, terutama dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan pada Allah swt.

Add Comment

%d bloggers like this: