FikihTausiyah

Memahami Kembali Pengertian Ibadah: Sudahkah Kita Benar-Benar Beribadah?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu sering mendengar kata ibadah dan melakukan hal-hal yang selama ini dikategorikan sebagai ibadah. Di dalam Islam sendiri misalnya, beberapa aktivitas harian yang disebut sebagai ibadah antara lain salat, puasa, zikir, membaca Alquran, dan lain-lain.

Akan tetapi, apa sesungguhnya ibadah itu? Benarkah dengan melakukan salat, puasa, dan membaca Alquran merupakan suatu perbuatan ibadah?

Pengertian Ibadah

Pengertian ibadah - baiturrahmanonline.com
Pengertian ibadah – baiturrahmanonline.com

Sebelum terburu-buru mengiyakan atau menampik, ada baiknya kita memahami dulu pengertian ibadah itu sendiri.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai panduan berbahasa, ibadah didefinisikan sebagai perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam uraian lebih lanjut, ada sebuah istilah ‘badaniah’ yang diartikan sebagai ibadah yang dilakukan secara fisik seperti salat.

Menurut definisi secara etimologi

Kata ibadah sendiri sesungguhnya berasal dari bahasa Arab. Secara etimologi, ibadah berarti merendahkan diri serta tunduk. Sementara itu secara terminologi, ada banyak sekali pengertian ibadah, tetapi semuanya mengerucut pada satu hal: perbuatan menundukkan diri di hadapan Allah disertai rasa kecintaan yang paling tinggi dengan taat melaksanakan perintah-Nya.

Jenis-Jenis Ibadah

Pengertian ibadah - republika.co.id
Pengertian ibadah – republika.co.id

Sesungguhnya, ibadah bukan hanya dalam bentuk yang secara nyata dan fisik terlihat—sebagaimana badaniah yang disinggung dalam KBBI. Ibadah yang dilakukan setiap umat sebenarnya berupa ibadah hati, ibadah lisan dan hati, dan ibadah fisik.

Ibadah hati

Beribadah pun dapat dilakukan mulai dari hati—melalui emosi yang tidak tampak dari luar. Adapun yang termasuk dalam ibadah hati adalah memiliki rasa takut (atas azab Allah), rasa cinta, tawakkal, dan gembira dalam setiap melakukan perbuatan yang diperintahkan Allah.

Ibadah lisan dan hati

Setingkat lebih ‘nyata’, ibadah pun dilakukan melalui lisan, seperti bersyukur dan mengucap kalimat-kalimat tasbih, tahlil, takbir, dan tahmid.

Ibadah fisik

Untuk yang satu ini, Anda jelas telah mengetahuinya. Ibadah fisik mencakup seluruh ibadah yang melibatkan langsung anggota tubuh seperti salat, zakat, haji, jihad, dan sebagainya.

Mengingat Tujuan Penciptaan

Pengertian ibadah - iamislam.com
Pengertian ibadah – iamislam.com

Tidak bisa dimungkiri, arus modernitas juga memberi dampak dalam kehidupan beragama. Seolah dituntut untuk serba cepat mengikuti pola modern yang sangat mementingkan kehidupan duniawi. Efeknya tentu saja, umat manusia kini telah mengalami degradasi moral.

Keadaan tentu tidak akan semakin kacau jika manusia kembali mengingat tujuan penciptaan dirinya. Dalam surat Adz-Dzariyat, Allah jelas menyatakan:

“…dan aku tidak menciptakan jin dan manusia supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh..”

Sudahkah Kita Benar-Benar Beribadah?

Pengertian ibadah - konsultasisyariah.com
Pengertian ibadah – konsultasisyariah.com

Berdasarkan uraian di atas, mari kita simpulkan pengertian ibadah sesungguhnya yang utuh. Tidak bisa dielakkan, kita tentu mengharapkan Allah untuk menempatkan kita di surga kelak. Masalahnya, apakah ibadah yang kita lakukan sudah benar? Apakah Allah sudah meridai ibadah yang kita lakukan?

Urusan surga dan neraka sepenuhnya adalah hak prerogatif Allah dan tidak dapat dinilai secara kuantitatif. Yang bisa kita lakukan hanyalah senantiasa berusaha untuk mendapatkan rida Allah dalam setiap langkah dan ibadah yang dikerjakan.

Untuk mencapai keridaan tersebut, kita harus benar-benar jujur dan terbuka terhadap diri sendiri. Salat lima waktu tidak akan ada artinya jika tidak dilakukan dengan niat tulus untuk ibadah. Naik haji berkali-kali pun serasa percuma jika hanya untuk menaikkan gengsi di hadapan manusia lainnya. Rutin berpuasa Senin-Kamis pun ternodai jika mulut selalu digunakan untuk menggunjingkan manusia lainnya.

Oleh karena itu, ibadah hati, lisan, dan fisik tidak dapat dipisahkan. Ibadah fisik pun tidak akan bernilai apa-apa jika tidak dibarengi ibadah hati dan lisan. Pun sebaliknya, ibadah hati juga tak akan berarti jika tidak diwujudkan dalam bentuk lisan dan fisik.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
%d bloggers like this: