Dunia Islam

Posisi Bercinta yang Diperbolehkan dalam Islam

Maha suci Allah yang telah mengatur segala hajat hidup manusia dalam agama Islam, termasuk urusan syahwat. Memiliki hasrat seksual merupakan fitrah, sifat alamiah yang merupakan karunia dari Allah. Jimak (hubungan intim antara suami dan istri) adalah salah satu masalah penting yang kaidah dan adabnya telah diatur oleh Islam.

Hubungan seksual antara suami dan istri sebenarnya bukan sesuatu yang tabu dalam Islam. Ada beberapa tuntunan khusus mengenai urusan ranjang, termasuk posisi bercinta yang diperbolehkan dalam agama Islam.

Allah telah menetapkan cara yang syari bagi manusia untuk menyalurkan hasrat seksual tersebut agar tidak menimbulkan kekacauan. Aturan dari Allah tersebut tertuang di dalam Alquran dan hadis nabi shalallaahu ‘alaihi wassalam. Berikut ini beberapa kaidah dan adab Islam saat bercinta:

  1. Memperbaiki Niat yaitu Ikhlas karena Allah

Bagaimana bercinta bisa menjadi wujud kecintaan pada Allah? Bercinta yang diperbolehkan adalah yang dilakukan setelah menikah. Bercinta bisa bernilai pahala apabila ikhlas diniatkan untuk menjaga diri dari zina, menghasilkan keturunan, dan menjadi sedekah bagi pasangan.

  1. Melakukan pemanasan dan bercumbu sebelum bercinta.
  2. Membaca doa sebelum bercinta.
  3. Memperhatikan posisi bercinta sesuai aturan Islam, yakni:

Islam memperbolehkan suami menyetubuhi istri dari arah mana pun asalkan bukan di dubur. Ketetapan ini berdasarkan firman Allah dalam surat Al-baqarah ayat 223 yang artinya:

“Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah yang baik untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.”

Dalil ini diperkuat oleh beberapa hadis, salah satu di antaranya:

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata, “Pernah suatu ketika Umar bin Khattab datang kepada Rasulullah, lalu berkata, ‘wahai Rasulullah, celaka saya.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu celaka?’ Umar menjawab, ‘Saya membalikkan pelana saya tadi malam.’ (pelana adalah kiasan untuk istri, yang dimaksud adalah menyetubuhi istri pada kemaluannya tapi dari arah belakang). Rasulullah tidak memberikan komentar apa pun, hingga turun ayat ke-23 dari surat Al Baqarah kepada beliau. Kemudian beliau bersabda, “Setubuhlah istrimu dari arah depan atau belakang, tetapi jangan engkau menyetubuhinya di dubur dan ketika sedang haid.” (HR. Ahmad dan Nasa’i)

Dari dalil di atas jelaslah bahwa posisi bercinta dalam Islam, apa pun itu, adalah halal selama dilakukan pada kemaluan dan dengan cara yang baik. Sedangkan yang diharamkan saat bercinta adalah pada dubur dan ketika istri sedang haid. Larangan ini dengan jelas disebutkan di dalam alquran sesuai firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 222 yang artinya:

“Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, ‘Itu adalah sesuatu yang kotor.’ Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan janganlah kamu dekati sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang bertobat dan menyucikan diri.”

Juga dalam hadis, Rasulullah bersabda :

“Dilaknat orang yang menyetubuhi istrinya pada duburnya.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Sesungguhnya Islam adalah agama yang mudah. Aturan berupa perintah dan larangan dimaksudkan untuk mencegah kerusakan di muka bumi. Posisi bercinta dalam Islam pun dianggap sebagai sesuatu yang penting. Maka, sudah seharusnya sebagai orang yang beriman kita mendengar dan patuh kepada perintah Allah.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close