Dunia Islam

Seperti Apa Hakikat Ikhlas Menurut Islam? Simak Penjelasannya di Sini!

Ikhlas adalah salah satu perilaku terpuji dan perbuatan hati yang wajib dimiliki oleh tiap-tiap umat muslim. Hal ini menjadi sebuah keharusan mengingat segala perbuatan dan ibadah tidak akan diterima bila tidak disertai dengan rasa ikhlas.

Tidak seperti kebanyakan istilah Arab lainnya, makna dan kandungan ikhlas ini memiliki arti yang cukup mendalam serta membutuhkan penerapan yang tidak mudah dalam kehidupan nyata. Meskipun kata ikhlas sering kali dikaitkan dengan ungkapan semata-mata hanya mengharap ridho-Nya (Allah) atau tidak mengharap balasan dari siapa pun, dan selainnya. Namun, dalam penerapan di kehidupan sehari-hari tentu tidaklah seringan frase tersebut.

Seperti apakah ikhlas itu? Dan bagaimana ikhlas dalam pandangan Islam dan kehidupan sehari-hari? Berikut paparannya:

Arti Kata Ikhlas

Hakikat Ikhlas - Blaxamana.com
Hakikat Ikhlas – Blaxamana.com

Secara istilah bahasa, kata ikhlas berasal dari bahasa Arab, akhlasa yang memiliki arti murni, bersih, atau lurus, atau suci. Sedangkan dalam istilah makna, ikhlas adalah niat mengharap ridha Allah dan memurnikan niat dari kotoran yang dapat merusak segala hal.

Hal ini senada dengan perintah Allah SWT yang tercantum dalam Alquran, “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah SWT dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS Al Bayyinah ayat 5)

Berdasarkan surat Al-bayyinah di atas dapat diambil beberapa pengertian mengenai ikhlas, yaitu:

  • Melaksanakan ketaatan hanya untuk mengharap ridha Allah SWT semata.
  • Membersihkan setiap amal dari kotoran

Hakikat Ikhlas Menurut Islam

Hakikat Ikhlas - Harrishsairaman.com
Hakikat Ikhlas – Harrishsairaman.com

Esensi ikhlas dalam sudut pandang Islam berarti memurnikan sesuatu dari kotoran, membebaskan diri dari hal-hal yang merusak niat dan tujuan dalam mengerjakan suatu amalan baik yang dilakukan kepada Allah SWT juga manusia. Sehingga bila seseorang sudah memiliki perasaan atau di dalam dirinya telah tersemat prinsip semata-mata hanya karena Allah SWT, maka dapat dikatakan sifat ikhlas sudah tersemat di dalam diri orang tersebut.

Sementara itu, dalam Islam terdapat tiga tingkatan ikhlas menurut Imam Ghazali, yaitu:

  • Ikhlas awam
    Ikhlas awam perasaan ikhlas dalam menyembah kepada Allah dengan mengharap pahala dari-Nya dan dilandasi perasaan takut akan siksa-Nya. Pada tingkat ini, seorang hamba cenderung mengerjakan ibadahnya dengan dasar takut akan siksa neraka dan mengharap surga.
  • Ikhlas khawas
    Sementara itu, ikhlas khawas adalah perasaan ikhlas dalam beribadah kepada Allah atas dasar motivasi dan keinginan agar lebih dekat dengan Allah SWT dan kelak dengan kedekatannya itu segala sesuatu mudah dicapai atau dikabulkan oleh Allah SWT.
  • Ikhlas khawas al-khawas
    Sedangkan ikhlas khawas al-khawas adalah perbuatan ikhlas adalah perasaan ikhlas dalam menyembah kepada Allah atas dasar kesadaran yang tulus dan tingkat keinsyafan yang mendalam dan meyakini bahwa segala sesuatu yang ada merupakan milik Allah SWT. Seorang hamba dikatakan berada pada tingkatan ini bila semua perbuatan dan ibadah yang dilakukan karena rasa bakti untuk memenuhi perintah serta mengagungkan Allah SWT tanpa mengharap balasan apa pun dari semua yang dilakukannya kepada Allah SWT.

Ciri-Ciri Ikhlas

Hakikat Ikhlas - Quora
Hakikat Ikhlas – Quora

Bagaimana setidaknya mengetahui atau mengukur bahwa diri ini sudah benar-benar ikhlas? Berikut beberapa ciri-cirinya:

  • Selalu bersungguh-sungguh dalam beramal meski tidak menerima penghargaan baik di tengah keramaian atau dalam keadaan sendiri. Hal ini senada dengan perkataan sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a, “Orang riya memiliki berbagai ciri di antaranya: malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bersemangat untuk beramal bila dipuji dan semakin berkurang bila dicela.”
  • Terjaga dari segala hal yang diharamkan oleh Allah SWT dalam keadaan apa pun, baik sedang sendiri atau sedang bersama manusia lainnya.

Jadi, sudahkah kita tidak mengharap penilaian baik dari manusia? Sudahkah kita ikhlas?

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close