Dunia Islam

Perhatikan 4 Syarat Ini Agar Taubat Nasuha Diterima Allah

Seiring perjalanan hidupnya, manusia akan terus-menerus menumpuk kesalahan dan dosa. Meskipun demikian, setiap manusia yang melakukan dosa pasti ingin berubah menjadi lebih baik. Hal ini merupakan fitrah yang ada pada diri manusia.

Allah swt. membuka kesempatan bagi manusia untuk bertaubat selama belum sampai napasnya di tenggorokan. Allah dalam Quran Surat An Nisa ayat ke-18 berfirman, “Dan taubat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan, “Saya benar-benar bertaubat sekarang.”

Oleh karena itu janganlah menunda taubat. Sebab manusia tidak pernah tahu kapan ajalnya datang. Dengan taubat itu, Allah membersihkan dirinya dari segala dosa, sehingga ia dapat kembali kepada-Nya sebagai jiwa yang tenang (an nafsul muthmainnah).

Adapun sebaik-baiknya taubat adalah taubat nasuha. Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8).

Makna Taubat Nasuha

Kata “nasuha” dalam Surat At Tahrim ayat ke-8 secara bahasa memiliki arti sesuatu yang bersih atau murni. Sesuatu hal dikatakan murni bila tidak terdapat kotoran atau hal lainnya yang mencampuri. Dengan demikian, taubat nasuha dapat dikatakan sebagai taubat yang sungguh-sungguh, murni, dan ikhlas, semata-mata untuk Allah swt.

Ibnu Qayyim dalam dalam kitabnya, Madaarijus Saalikiin, menulis, “An-nush-khu dalam taubat, ibadah, dan nasihat artinya memurnikan perkara-perkara tersebut dari semua kotoran, kekurangan, dan kerusakan. Seseorang melaksanakannya dalam bentuk yang paling sempurna”.

Syarat Diterimanya Taubat Nasuha

Menerima taubat merupakan hak mutlak Allah atas hamba-hamba-Nya. Meskipun demikian, seorang hamba wajib berikhtiar dan bertawakal semampunya agar Allah dapat menerima taubatnya. Adapun syarat-syarat yang perlu dipenuhi agar Allah menerima taubat seorang hamba adalah sebagai berikut.

Didasari dengan Keikhlasan

Didasari dengan Keikhlasan - i2.wp.com
Didasari dengan Keikhlasan – i2.wp.comDidasari dengan Keikhlasan – i2.wp.com

Taubat yang dilakukan karena alasan-alasan duniawi seperti ria bukanlah taubat nasuha. Allah swt berfirman, “Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada Allah, dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar (QS. An Nisa: 146).

Ditunjukkan dengan Penyesalan

 Ditunjukkan dengan Penyesalan - typeset-beta.imgix.net
Ditunjukkan dengan Penyesalan – typeset-beta.imgix.net

Rasululullah saw. pernah bersabda, “Penyesalan adalah taubat,” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad). Taubat dilakukan dengan penyesalan yang dalam atas dosa yang pernah diperbuat. Seorang hamba yang bertaubat akan mengakui kesalahannya, menyesali dosa-dosanya, serta mengharapkan keselamatan dari Allah swt.

Meninggalkan Kemaksiatan

Meninggalkan Kemaksiatan - caper.id
Meninggalkan Kemaksiatan – caper.id

Setiap hamba yang melakukan taubat wajib meninggalkan aktivitas dosa yang pernah dilakukannya. Apabila kesalahan yang dilakukan menyangkut hak-hak orang lain, maka wajib mengembalikan hak-hak tersebut. Sebagai contoh, bila kesalahan menyangkut harta, maka wajib untuk mengembalikan harta tersebut. Pun jika seseorang pernah menyakiti orang lain dengan perkataannya, maka diharuskan untuk meminta maaf dengan tulus.

Berubah dengan Melakukan Perbaikan-Perbaikan

Berubah dengan Melakukan Perbaikan-PerbaikanBerubah dengan Melakukan Perbaikan-Perbaikan - i0.wp.com
Berubah dengan Melakukan Perbaikan-PerbaikanBerubah dengan Melakukan Perbaikan-Perbaikan – i0.wp.com

Allah swt. berfirman, “Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An’am: 54).

Seorang hamba yang melakukan taubat nasuha harus meyakini bahwa rahmat Allah sangat luas. Dengan demikian, ia akan berprasangka positif dan memiliki optimisme untuk berubah. Semoga Allah menerima segala taubat kita dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya kelak. Amin.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close