HajiUmroh

Apakah Umroh di Bulan Ramadhan Sama dengan Haji?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh pagi ini ke sana kembali menyajikan kepada Anda membutuhkan ilmu yang terpendam dalam luasnya Khazanah Islam pemisah ke sana banyak umat muslim yang berlomba-lomba mengerjakan ibadah umrah di bulan Ramadan Ada yang berangkat di awal bulan atau di 10 hari terakhir Bahkan tak sedikit yang sebulan penuh berumroh dan beribadah di tanah suci fenomena membludaknya umroh di bulan suci Ramadan menimbulkan tanya apakah memang umroh di bulan suci memiliki keistimewaan tersendiri dibanding di bulan-bulan biasa lainnya

bulan Ramadan terdapat pada Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim suatu ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bertanya kepada umum Akil mengapa dia tidak ikut berhaji bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat menjawab Aku hanya memiliki dua ekor unta unta yang pertama ditunggangi oleh suami dan anakku sedangkan ultah yang lain digunakan untuk mengakhiri kebun mendengar jawaban ini Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda jika Ramadan tiba berumroh rasa itu karena umroh Ramadhan senilai dengan Haji dalam redaksi hadits riwayat Imam Bukhari ada tambahan teks sesungguhnya umroh di bulan Ramadan seperti berhaji bersamaku

setelah mendengar sabda Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam umum Akil berkata Haji nilainya haji umroh nilainya umroh tapi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda demikian kepada aku Aku tidak tahu apakah ini khusus untuk Berdasarkan pernyataan umum Abdul inilah Sebagian ulama memahami bahwa keutamaan umrah di bulan Ramadan tidak berlaku umum dan hal ini tercatat dalam hadits riwayat Sunan Abu Daud

meskipun beberapa ulama Apakah hadits melemahkan hadits ini sehingga tidak bisa diterima sebagai dalil dalam kitab Fathul Bari Ibnu Hajar asqalani juga menjelaskan keutamaan umroh di bulan Ramadhan hanya berlaku khusus bagi umat saja pendapat ini merujuk pada pendapat ulama dari masa tabiin bernama Said bin jubair bahwa keutamaan umrah Ramadan tidak berlaku umum karena sabda Nabi tersebut dimasukkan kepada umum Akil karena umum alkil terhalang menjalankan ibadah haji karena tidak memiliki hewan tunggangan pendapat berbeda disampaikan oleh Ibnu Rajab menyatakan keutamaan umroh di bulan Ramadhan hanya berlaku bagi orang yang sudah berniat Haji namun tidak mampu melaksanakannya kemudian dia mengerjakan umrah di bulan Ramadan sehingga mendapatkan pahala seperti haji bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pahala ini didapatkan karena sudah berniat berangkat haji bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam

contohnya beberapa wanita yang tidak bisa ikut haji bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ketika beliau pulang ada yang bertanya

Amalan apa yang bisa menggantikan nilai haji bersama beliau kemudian Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menyarankan untuk melakukan umrah di bulan Ramadhan karena umroh di bulan Ramadan senilai haji bersama beliau meski muncul perbedaan pendapat dikalangan ulama dan pendapat yang paling kuat adalah pendapat mayoritas ulama yang menyatakan bahwa keutamaan umroh di bulan Ramadan berlaku untuk umum tidak hanya untuk umum Aqil

lalu apa yang dimaksud dengan umroh Ramadhan sama dengan Haji Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab syarah muslim menjelaskan umroh saat bulan Ramadan memiliki pahala seperti ibadah haji Namun bukan berarti umroh Ramadhan sama dengan Haji secara keseluruhan seseorang yang mampu secara fisik dan harta tetap wajib berhaji meskipun telah berubah saat Ramadhan karena ibadah tersebut tidak menggantikan kewajiban Haji sebagai salah satu dari lima rukun Islam meski pahalanya besar bahkan menyamai Haji akan tetapi faktanya berdasarkan Catatan sejarah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah melaksanakan umrah di bulan Ramadan justru beliau selalu mengerjakan ibadah umroh di bulan dzulqa’dah

Apakah dengan demikian umroh di bulan dzulqa’dah lebih baik dari umroh di bulan suci Ramadan

jumhur atau mayoritas ulama berpendapat keutamaan umrah di bulan Ramadan lebih kuat daripada bulan dzulqa’dah karena tidak ada landasan yang menjelaskan keutamaan umrah di bulan dzulqa’dah kecuali dengan perbuatan Nabi keistimewaan umroh di bulan Ramadan berdasarkan dalil secara rinci tidak seperti umroh di bulan dzulqa’dah inilah pendapat yang disampaikan oleh sebagian besar ulama ahli fiqih maupun hadis pemirsa ke sana salah satu golongan yang mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa adalah orang yang sedang bepergian atau musafir Bagaimana jika perjalanan jauh itu menjadi rutinitas atau memang sudah menjadi pekerjaannya misalnya para pilot pramugari dan sopir Apakah saat menjalankan tugasnya mereka masih tergolong sebagai musafir sehingga mendapat keringanan meninggalkan puasa Ramadhan

menurut ulama kontemporer mereka tetap tergolong seorang musafir meskipun perjalanan jauh antar kota merupakan rutinitas harian terkait pekerjaan sehingga mereka diperbolehkan untuk meninggalkan puasa ramadhan namun ketetapan syariat tetap mewajibkan mereka untuk mengkode atau mengganti hari-hari yang ditinggalkan terkait waktu penggantinya boleh dilaksanakan di waktu yang jarak antara subuh ke maghrib relatif pendek atau ketika kondisi cuaca cukup sejuk inilah sebuah keringanan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap hambanya hal ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wa taala dalam surah Al Baqarah ayat 184 maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain tentu saja keringanan ini hanya berlaku jika jarak perjalanannya telah memenuhi ketentuan syariat Berapa jarak minimum

yang ditempuh yaitu seperti yang disepakati ulama sejauh 48 mil atau sekitar 80 KM boleh meninggalkan puasa Ramadan Ibnu qudamah menyebutkan penjelasan sahabat Ibnu Abbas radhiallahu Anhu bahwa patokan seseorang boleh meng-qashar salat dan meninggalkan puasa ramadhan jika bepergian dari Mekkah ke Jeddah atau jarak yang buka hingga Tayub para ulama menjelaskan patokan jarak ini terlalu umum tidak terkait dengan alat transportasi yang digunakan Seseorang dikatakan sebagai musafir apabila berpergian lebih dari 80 KM sebaiknya menggunakan mobil kapal laut atau pesawat terbang jika demikian maka akan memunculkan pertanyaan Bagaimana jika perjalanan sejauh itu di misalnya jarak sekitar 80 KM itu jika ditempuh dengan alat transportasi udara bisa ditempuh dalam waktu yang singkat dan sama sekali tidak melelahkan Apakah ini

Niken keringanan tetap berlaku Manakah yang lebih baik tetap berpuasa atau mengambil keringanan yang telah diberikan Allah Sebagian ulama mengatakan jika Safar perjalanan itu tidak memberatkan lebih diutamakan berpuasa sahabat Abu Darda radhiyallahu Anhu berkata Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah melakukan Safar di tengah terik matahari panasnya cuaca membuat semua orang meletakkan tangannya diatas kepala hampir seluruh orang dalam rombongan tidak berpuasa namun Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan Ibnu rawahah tetap berpuasa dalam kondisi berdasarkan hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ini Sebagian ulama berpendapat orang yang bepergian sebaiknya tetap berpuasa dengan catatan perjalanan itu dirasa mudah dan tidak memberatkan ketika tetap berpuasa seseorang lebih cepat melaksanakan kewajibannya kepada Allah tidak perlu mengganti atau menggoda di lain hari berpuasa selama bulan Ramadan dirasa lebih ringan

bandingkan harus menggoda di bulan-bulan lainnya di bulan Ramadhan seluruh umat muslim berpuasa sehingga secara psikologis ibadah ini tidak terlalu berat berbeda halnya jika harus berpuasa secara sendirian di luar nama dan jika kondisi perjalanan cukup berat para ulama menyarankan lebih baik tidak berpuasa Hal ini berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim ketika sedang bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melihat orang yang saling berdesak-desakan kemudian ada salah seorang diantaranya mendapatkan perlindungan lalu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam Siapakah orang ini dan orang-orang pun menjawab Dia adalah orang yang sedang berpuasa kemudian Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda bukanlah sesuatu yang baik jika seseorang berpuasa ketika dia dapat membatalkan puasa menjadi wajib hukumnya jika kondisi perjalanan bisa mengancam nyawa bahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mencela para musafir yang berpuasa di

Perjalanan yang sangat berat

sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu Anhu berkata

sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam keluar pada tahun satu maka menuju maka di bulan Ramadhan beliau ketika itu berpuasa kemudian ketika sampai di Kuro album suatu Lembah antara Makkah dan Madinah orang-orang ketika itu masih berpuasa Kemudian beliau meminta di Ambilkan segelas air lalu Beliau mengangkatnya dan orang-orang pun memperhatikan beliau lantas Brio minum air tersebut setelah beliau melakukan hal tadi ada yang mengatakan sesungguhnya sebagian orang ada yang tetap berpuasa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun mengatakan mereka itu adalah orang yang durhaka mereka itu adalah orang yang durhaka

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menjilat keras orang yang tetap berpuasa dalam kondisi sangat sangat sulit dan ini adalah sesuatu yang tercela orang yang harus bepergian setiap hari karena pekerjaan seperti sopir bus diperbolehkan meninggalkan puasa ramadhan karena mereka termasuk musafir Terlebih jika pekerjaan sebagai sopir antar kota itu mengurangi tapi jika rutinitas perjalanan antar kota itu dirasa tidak terlalu memberatkan disarankan tetap berpuasa Allahu A’lam Bishawab

pemirsa ke sana selain berpuasa di akhir ramadhan umat muslim juga wajib mengeluarkan zakat fitrah biasanya zakat fitrah diserahkan pada amil zakat yang dibentuk oleh panitia panitia masjid atau lembaga lembaga amil zakat tapi bagaimana jika zakat fitrah itu kita Salurkan sendiri kepada saudara atau kerabat kita sendiri yang miskin perlu diperhatikan bahwa di antara golongan yang berhak menerima zakat Fitri adalah fakir miskin Ibnu Abbas radhiallahu Anhu meriwayatkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mewajibkan zakat Fitri sebagai makanan orang miskin hadis ini menunjukkan fungsi zakat Fitri untuk mencukupi kebutuhan orang miskin ketika hari raya

Sebagian ulama mengatakan salah satu hikmah dari turunnya perintah untuk mencukupi kebutuhan orang miskin di hari raya agar mereka tidak disibukkan dengan memikirkan kebutuhan makanan di hari tersebut sehingga mereka bisa bergembira bersama kaum muslimin yang lainnya anggota keluarga yang miskin seperti Paman Bibi atau sepupu boleh menerima zakat kita bukan hal ini lebih dianjurkan seseorang akan mendapatkan pahala lebih saat menyalurkan zakat kepada saudara dekatnya yang miskin dibandingkan menyalurkan zakat kepada orang lain menyalurkan zakat ke keluarga bernilai ganda pertama membayar zakat untuk melaksanakan perintah Allah yang kedua melalui zakat bisa mempererat silaturahim Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda Sesungguhnya zakat kepada orang miskin bilangnya zakat saja sedangkan zakat kepada kerabat nilainya 2 zakat dan silaturahim hadits riwayat muslim dari my Tirmidzi dan Ibnu Majah semua

saudara dan kerabat berhak menerima zakat kita akan tetapi syaratnya mereka tidak termasuk orang yang wajib kita nafkahi ulama menegaskan kita tidak boleh membayarkan zakat kepada orang tua kakek nenek hingga seterusnya ke atas sekalipun miskin kita juga dilarang memberikan zakat kepada istri anak cucu dan seterusnya hingga ke bawah karena mereka tergolong orang yang wajib kita nafkahi termasuk saudara atau kerabat yang menumpang tinggal di rumah kita Sehingga kebutuhan makan minum dan tempat tinggalnya menjadi tanggungan kita mereka itu sekalipun miskin tidak berhak mendapatkan zakat dari kita karena tergolong orang yang kita tanggung nafkahnya jika ada saudara yang tidak kita tanggung nafkahnya dan tergolong fakir miskin kita sebaiknya menyerahkan zakat fitrah kepada mereka Wallahu A’lam Bishawab pemirsa kesana salah satu pembatal puasa adalah

Bagaimana dengan infus Apakah cairan yang dimasukkan ke tubuh melalui suntik itu termasuk membatalkan puasa atau tidak mengingat cara memasukkan cairan tidak melalui saluran makan atau minum para ulama kontemporer menggolongkan infus sebagai cairan yang memberikan tenaga atau menghilangkan sehingga orang yang mendapatkan suntikan cairan infus batal puasanya tetapi jika jumlah cairan yang disuntikkan itu sangat sedikit sekali misalnya 1 hingga 2 ML dianggap tidak membatalkan puasa Mengapa demikian hal ini disamakan dengan air yang masuk mulut sehabis berkumur jika air yang masuk sangat sedikit jumlahnya maka tidak membatalkan puasa ada beberapa cairan yang tidak membatalkan puasa ketika disuntikkan ke dalam tubuh seperti insulin vaksin atau obat-obatan anti nyeri para ulama menjelaskan cairan itu tidak bersifat Menambah tenaga atau menghilangkan sehingga tidak tergolong sebagai pembatal puasa metode penting

dan juga berpengaruh terhadap sah atau tidaknya puasa bahan yang disuntikkan di bawah kulit dan di otot tidak membatalkan puasa karena menurut para ulama kontemporer tidak ada saluran khusus ke organ pencernaan sehingga tidak menambah energi atau tidak mengenyangkan yang perlu diingat kaidah umum pembatal puasa itu tidak semata bahan yang masuk ke dalam saluran pencernaan pembatal puasa adalah bahan yang masuk ke dalam saluran pencernaan yang menguatkan badan sehingga prinsipnya sama dengan makan dan minum Ibnu Taimiyah menegaskan puasa tidak batal dengan suntikan karena suntikan bukanlah makan dan minum baik secara bahasa maupun kebiasaan tidak ada dalil dalam kitab dan Sunnah bahwa kaidah hukum membatalkan puasa karena masuknya sesuatu ke Lombok

apa yang disebutkan dalam al-qur’an dan Sunnah menunjukkan pembatal Puasa itu adalah sesuatu yang sudah ditentukan yaitu makan dan minum itu sebabnya dalam fatwa modern disebutkan boleh berobat dengan di suntik di lengan atau pembuluh darah bagi mereka yang puasa Ramadan namun orang yang sedang berpuasa tidak boleh diberi suntikan nutrisi di siang hari Ramadan Jika memungkinkan untuk melakukan suntik lengan atau pembuluh darah di malam hari maka itu lebih baik Lalu bagaimana dengan orang yang menerima transfusi darah apakah puasanya batal

pemirsa Jangan kemana-mana ke sana akan segera kembali saat lagi menstruasi

wajah anak-anak umur 9 tahun

* 5 tahun

kode pos hulaan Hasanah perjalanan Abadi 2 sepanjang bulan Ramadhan hanya di Trans7

para ulama kontemporer menyatakan orang yang menerima transfusi darah batal puasanya termasuk orang yang melakukan proses cuci darah Mengapa demikian karena di dalam darah terdapat sari-sari makanan terutama pada bagian yang disebut plasma darah

Oleh karena itu menerima transfusi darah Sama halnya dengan mendapatkan sari-sari makanan inilah yang menjadi dasar para ulama yang menyatakan penerima transfusi darah di siang hari bulan Ramadhan batal puasanya

prinsip dasar syariat Islam adalah memberi kemudahan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu Quran surat al-baqarah 185 semua syariat Islam bersifat mudah dalam seluruh ibadah wajib pasti ada kemudahan didalamnya sesuai dengan adanya sebab-sebab keringanan atau rupa dan persamaan kemudahan amalan-amalan tersebut Allah tetap disyariatkan untuk menyemangati seorang hamba dalam mengerjakan amalan tersebut Semoga Allah memberi kita Taufik dan hidayah sehingga kita bisa optimal dalam mengerjakan amalan-amalan kebaikan Amin ya robbal alamin sampai disini akhir kebersamaan kita pagi ini Terima kasih atas perhatian anda Akhir kata assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

dari mata

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close