Dunia Islam

Muslimah Bercadar, Bagaimana Hukum dan Ketentuannya?

Wanita adalah makhluk yang sangat dimuliakan dalam Islam. Saking mulianya, Allah SWT bahkan mewajibkan muslimah yang sudah balig agar menjaga dan menutup bagian tubuhnya yang termasuk aurat dari pandangan orang lain yang bukan mahram.

Aurat wanita adalah seluruh bagian tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Dalam menutup aurat itu sendiri, wanita biasanya menggunakan pakaian panjang dan hijab sebagai penutup kepala. Bahkan, ada juga muslimah yang menggunakan cadar sebagai penutup wajah. Namun, bagaimanakah sebenarnya hukum dan ketentuan menggunakan cadar di dalam Islam?

Pengertian Hijab dan Cadar

Wanita Bercadar - newtapanuli.com
Wanita Bercadar – newtapanuli.com

Dalam Bahasa Arab, hijab memiliki arti pembatas atau sesuatu yang memisahkan. Namun, hijab kini sudah mengalami penyempitan makna. Hijab diartikan sebagai pakaian yang menutupi aurat wanita mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sementara, cadar sendiri adalah bagian dari hijab yang berfungsi untuk menutupi bagian wajah.

Di Indonesia, penggunaan cadar sebagai bagian dari hijab memang belum begitu umum dan masih dianggap tabu oleh sebagian kalangan, meskipun sebenarnya sudah banyak muslimah Indonesia yang menutupi wajahnya dengan cadar saat berada di luar rumah.

Hukum Bercadar Menurut Pendapat 4 Mazhab

Wanita Bercadar - i1.wp.com
Wanita Bercadar – i1.wp.com

Hukum menggunakan cadar masih menjadi perdebatan di antara kalangan ulama. Berikut adalah pendapat mengenai hukum wanita bercadar dalam pandangan 4 mazhab, yakni Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i, serta Mazhab Hambali.

  • Mazhab Hanafi

Menurut Mazhab Hanafi, menggunakan cadar bagi wanita muslim hukumnya adalah sunah, karena wajah bukan merupakan bagian dari aurat wanita. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Al Imam Muhammad “Alaa-uddin berikut ini:

“Seluruh badan wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam. Dalam suatu riwayat, juga telapak tangan luar. Demikian juga suaranya. Namun bukan aurat jika di hadapan sesama wanita. Jika cenderung menimbulkan fitnah, dilarang menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki” (Ad Durr Al Muntaqa, 81)

  • Mazhab Maliki

Sama seperti Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki juga berpendapat bahwa wajah wanita bukan bagian dari aurat, dan memakai cadar hukumnya adalah sunah. Namun menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Ibnu Juwaiz Mandad, salah seorang ulama besar Maliki berkata:

“Jika seorang wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya menimbulkan fitnah, hendaknya ia menutup wajahnya. Jika ia wanita tua atau wajahnya jelek, boleh baginya menampakkan wajahnya” (Tafsir Al Qurtthubi, 12/229)

  • Mazhab Syafi’i

Berbeda dengan Mazhab Hanafi dan Maliki, Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa aurat wanita di hadapan pria yang bukan mahramnya adalah seluruh tubuhnya, sehingga wajib bagi seorang wanita muslim untuk menggunakan cadar. Sebagaimana pendapat ulama Ast Syarwani berikut ini:

“Wanita memiliki tiga jenis aurat, (1) aurat dalam shalat -sebagaimana telah dijelaskan- yaitu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, (2) aurat terhadap pandangan lelaki yang bukan mahram, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad, (3) aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar dan paha” (Hasyiah Asy Syarwani ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 2/112)

  • Mazhab Hambali

Mazhab Hambali juga sependapat dengan Mazhab Syafi’i yang mengharuskan wanita untuk mengenakan cadar atau penutup wajah. Menurut Imam Ahmad bin Hambal, seluruh tubuh wanita adalah aurat, bahkan termasuk juga kuku-kukunya. Hal ini dijelaskan dalam pendapat Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz Al ‘Anqaaari berikut ini:

“Setiap bagian tubuh wanita yang baligh adalah aurat, termasuk pula sudut kepalanya. Pendapat ini telah dijelaskan dalam kitab Ar Ri’ayah… kecuali wajah, karena wajah bukanlah aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, semua bagian tubuh adalah aurat, termasuk pula wajahnya jika di hadapan lelaki atau di hadapan banci. Jika di hadapan sesama wanita, auratnya antara pusar hingga paha” (Raudhul Murbi’, 140)

 

Demikianlah pembahasan singkat mengenai hukum dan ketentuan menggunakan cadar. Meskipun banyak pendapat di kalangan para ulama, tetapi tidak ada pendapat yang secara tegas mewajibkan untuk mengenakan cadar sebagaimana wajibnya memakai hijab.

Ada pendapat yang sebatas menyarankan, dan ada juga yang setengah mewajibkan. Hal itu tentu kembali pada kondisi dan situasi. Jika memang dapat menimbulkan fitnah dan menyebabkan syahwat bagi lelaki yang memandang wajahnya, tentu lebih disarankan untuk memakai cadar. Wallahu a’lam bishowab.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close